Kamis, 08 Januari 2009

MOTIF ORNAMEN CANDI PRAMBANAN


 

Motif ornamen yang dipahatkan di Candi Prambanan adalah sangat mewah dan beraneka ragam. Motif ini dikelompokkan menjadi: Motif Prambanan, flora, fauna.

MOTIF PRAMBANAN
Terletak di antara bingkai bawah dan atas pagar langkan bagian luar kaki candi atau dinding luar kaki candi. Motif ini salah satu keistimewaan terdapat di Candi Prambanan, dan tak ada duanya pada candi-candi lain di Indonesia.

Pahatan dengan tingkat kehalusan yang tinggi dan imajinasi yang luar biasa berjumlah 135 panel, mengelilingi masing-masing pagar langkan di setiap bangunan candi yang ada di halaman pusat:
 
  

• Candi Siwa - 32 panel
• Candi Brahma - 23 panel
• Candi Wisnu - 23 panel
• Candi Nandi - 19 panel
• Candi A (Garuda ?) - 19 panel
• Candi B (Angsa ?) - 19 panel

Di dalam satu motif Prambanan terdapat 3 relung berisi tokoh singa dalam posisi duduk diapit 2 pohon Kalpataru. Unsur baku motif ini dibagi menjadi 2:
relung berisi ornamen Kalpataru dan pelengkapnya,
dan relung berisi singa dalam posisi duduk.

MOTIF FLORA
Motif dunia tumbuhan banyak terdapat di kaki maupun tubuh bangunan Candi Prambanan berupa daun pepohonan dalam gaya naturalis, yang dibagi dalam:

Sulur-suluran, motif ini adalah hasil penggayaan daun padma. Bagian daun distilasi dan dibelah sehingga menjadi bentuk ikal dan ujungnya berbalik ke arah berlawanan. Ada 3 variasi sulur-suluran:

  * Sulur yang keluar dari jambangan menjulur dan melingkar ke kanan kiri, banyak terdapat di dinding kaki Candi Siwa bagian dalam, dinding luar kaki Candi Wahana, Candi Apit dan Candi Perwara.
  * Sulur yang keluar dari binatang, yakni dari mulut singa yang terbuka agak lebar, bentuknya menjulur melingkar-lingkar banyak terdapat di pipi tangga masuk bagian luar Candi Brahma, Candi Wisnu dan Candi Apit. Singa dalam posisi duduk. Sedangkan sulur lain adalah sulur yang keluar dari atas kepala rusa, melingkar-lingkar memenuhi pintu penampil Candi Siwa. Rusa dalam posisi berbaring dengan keempat kakinya ditekuk.
  * Sulur yang keluar dari padmamula yang menyerupai bonggol, bentuknya lingkaran-lingkaran ke atas yang terdapat di dinding bilik pintu dan tubuh Candi Siwa. Sulur ini menciptakan kesan bangunan kelihatan langsing.


Ceplok Bunga, relief bunga mekar dengan kelopak secara utuh. Mahkota bunga berbentuk bulat dengan garis petak-petak di dalamnya. Motif ini biasanya menghiasi bidang tegak maupun pelengkap pada motif yang berdiri sendiri seperti motif Prambanan. Banyak terdapat di bagian kaki dan tubuh Candi Siwa, Brahma dan Wisnu.

Kertas Tempel atau sering disebut motif permadani. Bentuknya merupakan hasil penggayaan dari bunga teratai sehingga berbentuk subang. Keteraturan penyusunan dan keseimbangan antara jarak masing-masing motif ini memberi kesan indah pada bidang bujur sangkar. Motif ini terdapat di pintu bagian kanan kiri Candi Siwa.

Bunga Teratai terdiri dari 3 variasi, yakni: teratai merah (padma), teratai biru (utpala) dan teratai putih (kumuda). Motif ini tidak berdiri sendiri di satu panel, melainkan selalu terkait dengan relief atau adegan lain, misal bunga teratai lambang Dewi Sita, Dewa Lokapala dan motif Prambanan. Seorang ahli dari negeri Belanda, van der Hoop menguraikan ketiga variasi itu.

MOTIF FAUNA
  

Motif binatang hanya terdapat di kaki Candi Siwa, Wisnu, Brahma, Wahana dan Apit. Motif ini dalam gaya naturalis sebagai pelengkap dan pendukung motif lain seperti motif sulur-suluran dan relief Ramayana, untuk jenis binatang: angsa, anjing, ayam, bajing, buaya, elang, gajah, ikan, harimau, kadal, kakak tua, kalajengking, katak,

kera, keledai, keong, gagak, kepiting, kuda, merpati, burung nuri, rusa, sapi, tikus, singa, dan ular.



 

Candi siwa
Sebagaimana filosofi agama Hindu, Dewa Siwa adalah dewa perusak yang sangat ditakuti, maka Candi Siwa adalah candi terbesar dan terpenting di dalam kompleks Candi Prambanan, yang letaknya berada di tengah-tengah antara Candi Brahma dan Candi Wisnu berhadapan dengan candi Nandi, kendaraannya, di halaman I dengan luas dasar 34 m² dan ketinggian 47 meter.
Tokoh-tokoh arca dewa yang terdapat di Candi Siwa adalah: arca Siwa Mahadewa di dalam bilik yang menghadap ke timur atau pintu utama, arca Agastya atau Siwa Mahaguru di dalam bilik yang menghadap ke selatan, arca Ganesha di dalam bilik yang menghadap ke barat, dan arca istri Siwa, Dewi Durga Mahisasuramardhini atau Rara Jonggrang di dalam bilik yang menghadap ke utara. Ada pula arca dewa Mahakala, Nandiswara, arca Dikpalaka atau Lokapala, arca Penari dan Pemusik. Secara pradaksina atau berjalan menganankan candi dari pintu utama, dapat diikuti kisah Ramayana yang termashur berupa peziarahan Rama di dunia sebagai jelmaan Dewa Wisnu (Ramachandra avatara). Relief ini diukir indah di dinding langkan sebelah dalam. Urutan kisah selanjutnya dipahatkan di Candi Brahma, sisi selatan Candi Siwa. Sebagai candi Hindu terindah dan termegah, Candi Siwa memaparkan pahatan relief ragam hias dekoratif dalam berbagai motif di dinding-dinding dan kakinya.

 

Candi brahma
Letaknya di sisi selatan Candi Siwa menghadap ke timur. Luas dasar 20 m² dan tinggi 37 m. Secara pradaksina atau berjalan menganankan candi dari pintu utama, dapat diikuti lanjutan kisah Ramayana yang termashur berupa peziarahan Rama di dunia sebagai jelmaan Dewa Wisnu (Ramachandra avatara), cerita yang bermula di Candi Siwa. Relief ini diukir indah di dinding langkan sebelah dalam. Di dalam bilik satu-satunya terdapat arca Dewa Brahma, atau yang sering disebut Svayambhu, dewa pencipta dunia (uttpati). Istri atau sakti-nya bernama Saraswati, dewi kecantikan dan kesenian. Data arkeolog menerangkan bahwa arca Brahma tidak banyak ditemukan, hal ini membuktikan bahwa Dewa Brahma tidak banyak penganutnya di dalam masyarakat Jawa Kuno.

Karena kedudukannya sebagai pencipta dunia, dipandang pekerjaannya sudah selesai maka Dewa Brahma tidak ditakuti sebagaimana Dewa Siwa. Kendaraannya adalah seekor angsa. Memiliki empat wajah dengan roman muka bahagia dan penuh kedamaian, mata tertutup sebagai gambaran dalam suasana meditasi. Keempat wajahnya menunjukkan ke-empat Weda yang terdapat dalam kitab agama Hindu:

  * Rig Weda - menghadap ke timur
  * Yajur Weda - menghadap ke selatan
  * Sama Weda - menghadap ke barat
  * Atharwa Weda -menghadap ke utara

Sebagai komponen candi Hindu terindah dan termegah di kompleks Candi Prambanan, Candi Brahma memaparkan pahatan relief ragam hias dekoratif dalam berbagai motif di dinding dan kakinya.



Candi wisnu
Letaknya di sebelah utara Candi Siwa menghadap ke timur. Luas dasarnya 20 m² dan tinggi 37 m. Sebagai komponen candi Hindu terindah dan termegah, Candi Wisnu memaparkan pahatan relief ragam hias dekoratif dalam berbagai motif di dinding-dinding dan kakinya. Hiasan dinding luarnya sama dengan Candi Brahma. Kendaraannya adalah burung garuda bernama, Suparna. Di dalam Kitab Rig Weda, Suparna adalah atribut matahari, yang menunjukkan asal-usul Wisnu sebagai Dewa Matahari, mempunyai istri atau sakti, Laksmi atau Dewi Sri (Dewi Kebahagiaan). Dewa Wisnu sebagai Dewa pemelihara, penyelenggara dan pelindung dunia ia digambarkan selalu siap menghadapi marabahaya. Upaya pemberantasan kejahatan yang akan menghancurkan dunia, Wisnu selalu turun ke dunia dalam bentuk penjelmaan (avatara) sesuai dengan jenis marabahayanya. Menurut Kitab Bagawatapurana terdapat dua puluh dua avatara Wisnu, sedangkan dalam naskah lain disebutkan ada dua puluh empat avatara (caturvimçatimarttayah). Namun, dari berbagai versi pada umumnya dikenal sepuluh avatara (daçaavatara) Wisnu yang dipandang penting dari sekian banyak avatara. Konon, sembilan dari daçaavatara itu telah terjadi, sedangkan avatara yang kesepuluh belum terjadi.

  * Matsya avatara, menjelma sebagai ikan (matsya) menolong Manu, manusia pertama, untuk menghindarkan diri dari air bah yang akan menelan dunia.
  * Kurma avatara, menjelma sebagi kura-kura (kurma) yang berdiri di atas laut sebagai alas gunung Mandara yang dipakai para dewa mengaduk laut dalam usaha mencari air amerta.
  * Waraha avatara, menjelma menjadi babi hutan (waraha) untuk mengangkat dunia kembali ke tempat semula, karena telah tertelan laut dan ditarik ke dalam kegelapan patala (dunia bawah).
  * Narasimha avatara, menjelma menjadi manusia berkepala singa (narasimha) untuk mengalahkan raksasa Hiranyakasipu yang sangat sakti dan rakus untuk menguasai dunia. Raksasa itu tidak dapat mati baik itu siang atau malam hari. Narasimha membunuhnya pada saat senja hari.
  * Wamana avatara, menjelma menjadi orang kerdil (wamana) menghadap kepada raja Daitya Bali, penguasa dunia yang sangat bengis, untuk meminta tanah seluas 3 langkah. Ketika permintaannya dikabulkan, maka dengan 3 langkah (triwikrama) ia menguasai dunia, angkasa dan surga. Tampaklah bahwa Wisnu sebagai dewa matahari yang menguasai dunia dengan 3 langkahnya, waktu terbit, tengah hari dan waktu terbenam.
  * Parasurama avatara, menjelma sebagai Rama bersenjatakan kapak (parasu) untuk menggempur golongan kesatria sebagai balas dendam terhadap penghinaan yang dialami ayahnya yang juga kesatria keturunan raja.
  * Rama avatara, menjelma sebagai Rama yang terkenal dengan kisah Ramayana untuk memberantas keangkara-murkaan Rahwana atau Dasamuka.
  * Kresna avatara, menjelma sebagai Kresna yang terkenal dalam cerita Mahabarata untuk membantu Pandawa menuntut keadilan atas Kurawa.
  * Buddha avatara, menitis sebagai Buddha untuk menyiarkan agama palsu, agar menyesatkan dan melemahkan manusia yang memusuhi para dewa.
  * Kalki avatara, dikisahkan dunia akan mengalami kekacauan tanpa dapat diatasi sehingga keselamatan dunia terancam musnah. Dalam hal ini Wisnu akan menjelma sebagai Kalki, dengan mengendarai kuda putih bersenjatakan pedang terhunus. Kemudian Kalki dengan segala kemampuannya menyelamatkan, menegakkan kembali keadilan dan kesejahteraan dunia beserta isinya.

Secara pradaksina atau berjalan menganankan candi dari pintu utama Candi Wisnu, dapat diikuti kisah Kresnayana atau Kresna avatara, berupa peziarahan Kresna di dunia sebagai jelmaan Dewa Wisnu. Relief ini diukir indah di dinding langkan sebelah dalam.



 
Candi nandi
Memiliki satu ruangan berisi Arca Nandi menghadap arah Candi Siwa. Posisi arca Nandi (lembu jantan) panjang ± 2 m berbaring di atas umpak berbentuk empat persegi panjang. Jumlah kakinya empat, sedangkan posisi kepala menghadap ke depan.

Di belakang kiri arca Nandi terdapat arca Dewa Candra naik kereta ditarik 10 ekor kuda, di belakang kanan terdapat arca Dewa Surya naik kereta ditarik 7 ekor kuda. Denah ukurannya 16,71 meter x 15,21 meter dan tinggi bangunan 27,06 meter.



Candi wahana 
Di komplek Candi Rara Jonggrang terdapat Candi Wahana yang letaknya berhadapan dengan candi induknya.

• Candi Nandi
Memiliki satu ruangan berisi Arca Nandi menghadap arah Candi Siwa.

• Candi Wahana A (Garuda ?)
Memiliki satu ruangan kosong, yang diyakini berisi sebuah arca. Denah ukurannya 14,37 meter x 14,37 meter dan tinggi bangunan 24,53 meter, berhadapan dengan Candi Wisnu, di sisi utara.

• Candi Wahana B (Angsa ?)
Memiliki satu ruangan kosong. yang diyakini berisi sebuah arca. Denah ukurannya 14,41 meter x 14,37 meter dan tinggi bangunan 24,36 meter, berhadapan dengan Candi Brahma di sisi selatan.


Candi Apit
Luas dasarnya 6 m² dan tinggi 16 m, berbilik kosong. Kemungkinan candi ini dipergunakan untuk bersamadi sebelum memasuki candi-candi induk.

Candi Kelir
Luas dasarnya 1,55 m² dan tinggi 4,1 m. Tanpa fasilitas tangga masuk. Fungsinya sebagai tolak bala.

Candi Sudut
Ukuran luas dan ketinggian sama dengan Candi Kelir, luas dasarnya 1,55 m² dan tinggi 4,1 m. Fungsinya sebagai batas atau pathok.






 
Relief ramayana
Relief kisah Ramayana terdiri dari 54 panel diukir indah pada dinding langkan dalam Candi Siwa dan dilanjutkan di Candi Brahma. klik untuk detail setiap panel
 
  Gambar tanggalan

Panel pertama mulai dari selatan pintu masuk secara pradaksina, atau berjalan menganankan candi Siwa hingga panel ke-24. Panel ke-25 hingga ke-54 berada di dinding langkan dalam Candi Brahma.

Kisah ini berasal dari Kitab Ramayana karangan Walmiki sekitar awal tarikh Masehi, terdiri atas tujuh jilid atau kanda, dan digubah ke dalam bentuk syair sebanyak 24.000 çloka. Ketujuh kanda itu adalah:

1. Bala – kanda
Di negeri Kosala dengan ibu kotanya Ayodhya, berkuasalah raja Daçaratha. Ia mempunyai 3 orang istri: Kausalya beranak Rama (anak tertua), Kaikeyi beranak Bharata, dan Sumitra beranak Laksmana, dan Çatrughna. Dalam swayamwara di Wideha Rama berhasil memperoleh Sita, anak raja Janaka, sebagai istri.

2. Ayodhya – kanda
Daçaratha merasa sudah tua. Maka ia bermaksud menyerahkan mahkotanya kepada Rama, datanglah Kaikeyi mengingatkan Daçaratha bahwa ia berhak atas dua permintaan yang harus dikabulkan raja. Permintaan pertama, Bharatalah yang harus naik takhta kerajaan, bukan Rama. Permintaan kedua, agar Rama dibuang ke hutan selama 14 tahun. Daçaratha terikat janji. Sebagai raja tak mungkin ia ingkar janji dengan menolak permintaan istrinya itu. Ia sangat bersedih hati. Sebaliknya Rama dengan ikhlas hati melepas haknya atas takhta kerajaan dan pergi ke hutan selama 14 tahun dengan diikuti istrinya, Sita, dan adiknya, Laksmana, pergi meninggalkan Ayodhya. Tidak lama kemudian Daçaratha wafat. Bharata menolak dinobatkan menjadi raja. Ia ke hutan mencari Rama. Bharata membujuk kakaknya, namun Rama tetap dengan pendiriannya mengembara di hutan hingga 14 tahun. Pulanglah Bharata ke Ayodhya membawa terompah Rama. Terompah diletakkan di singgasana sebagai lambang bahwa Rama adalah raja yang sah, dan ia memerintah Ayodhya atas nama Rama.

3. Aranya – kanda
Di hutan, Rama selalu membantu para pertapa yang sering diganggu raksasa. Suatu ketika Rama berjumpa raksasa perempuan, Çurpanakha, yang kemudian jatuh cinta pada Rama. Oleh Laksmana, Çurpanakha dipotong telinga dan hidungnya. Çurpanakha terhina dan mengadu kepada kakaknya, Rawana, raja raksasa berkepala sepuluh dan memerintah di Langka, disamping itu Çurpanakha menceritakan tentang betapa cantiknya istri Rama. Rawana mendatangi tempat tinggal Rama di hutan dengan maksud menculik Sita sebagai pembalasan atas penghinaan terhadap adiknya.
Marica, raksasa teman Rawana, menjelma menjadi seekor kijang emas berlari-lari kecil di depan perkemahan Rama. Sita sangat tertarik dan meminta Rama supaya menangkap kijang itu. Ternyata kijang itu tidak sejinak yang disangka, Rama makin lama makin jauh mengejarnya. Akhirnya kijang itu dipanah, seketika berubah menjadi raksasa dan menjerit keras-keras. Jeritan itu dikira Sita jeritan suaminya, Rama. Maka disuruhnyalah Laksmana untuk segera memberi pertolongan. Sebelum Laksmana pergi, ia buat lingkaran di tanah sebagai garis batas pelindung Sita dari marabahaya. Tinggalah Sita sendirian di dalam lingkaran pembatas itu. Tiba-tiba datanglah seorang brahmana mendekati Sita meminta sedekah makan. Sita mengingatkan sang brahmana untuk tidak melampaui lingkaran pembatas dari pada dirinya mendapat celaka, maka ketika Sita mengulurkan tangannya saat memberikan sedekah makanan, direnggutlah tangan itu oleh sang brahmana yang ternyata jelmaan Rawana, yang kemudian Sita dibawanya terbang. Ketika Rama dan adiknya kembali ke perkemahan, keadaan sepi dan kosong. Mereka bersedih hati dan berusaha mencari jejak Sita. Dalam pencarian yang tidak menentu itu, mereka menjumpai Burung Jatayu yang tengah terpuruk kesakitan. Burung itu kawan baik raja Daçaratha, menceritakan baru saja menghalangi Rawana yang menculik Sita, tetapi ia kalah dalam pertempuran. Sayap-sayapnya dipatahkan Rawana dan jatuh tak berdaya. Setelah memberikan penjelasan kepada Rama, sang Jatayu mati.

4. Kiskindha – kanda
Rama bertemu Sugriwa, raja kera, yang kerajaan dan istrinya direbut saudaranya sendiri bernama, Walin. Rama membantu Sugriwa mendapatkan kembali kerajaan dan istrinya. Kiskindha digempur, Walin mati dipanah Rama. Sugriwa kembali menjadi raja Kiskindha. Anggada, anak Walin diangkat menjadi yuwaraja (putera mahkota).
Pasukan kera berangkat ke Langka. Di tepi pantai, selat antara Langka dan India, pasukan kera itu berhenti dan mencari akal bagaimana dapat menyeberangi selat itu.

5. Sundara – kanda
Seekor kera putih anak Dewa Angin, Hanuman, kera kepercayaan Sugriwa mendaki gunung Mahendra dan melompat menyeberangi selat hingga kerajaan Langka. Ia jelajahi Langka hingga masuk ke istana Rawana. Ia menjumpai Sita. Kepadanya Hanuman menjelaskan bahwa tidak lama lagi Rama akan menjemputnya. Hanuman ditawan tentara Langka. Ia diikat dan kemudian dibakar. Loncatlah Hanuman ke atap rumah-rumah, dengan ekornya yang menyala ia menimbulkan kebakaran seluruh kota. Kemudian Hanuman melesat melompati selat menghadap Rama untuk melaporkan keadaan Langka.

6. Yuddha – kanda
Dengan bantuan Dewa laut pasukan kera membangun jembatan ke Langka. Rawana mengetahui negaranya terancam musuh. Wibhisana, adik Rawana, menasehatkan agar Sita dikembalikan saja kepada Rama dan tidak perlu berperang. Rawana murka mendengarnya maka Wibhisana diusir dari Langka kemudian ia bergabung dengan Rama. Pertempuran berlangsung sengit. Indrajit dan Kumbhakarna gugur, Rawana terjun ke dalam kancah peperangan. Ia mati terbunuh oleh Rama. Usai pertempuran, Wibhisana dinobatkan sebagai raja Langka, Sita bertemu kembali dengan suaminya, Rama. Rama tidak mau menerima kembali Sita, karena ia sudah sekian lama tinggal di istana Langka, dan tidak mungkin ia masih tetap suci. Sita merasa sedih sekali, lalu ia membuat api unggun dan menerjunkan diri ke dalam api. Tampaklah Dewa Agni di dalam api itu yang kemudian menyerahkan Sita kepada Rama.
Rama menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak sangsi akan kesetiaan Sita, akan tetapi sebagai pemaisuri ia harus membuktikan kesuciannya di mata rakyat.
Diiring tentara kera, Rama beserta Sita dan adiknya kembali ke Ayodhya. Mereka disambut Bharata, yang kemudian menyerahkan takhta kerajaan kepada Rama.

7. Uttara – kanda
Duapertiga kanda (jilid) ini isinya berbagai cerita yang tidak ada kaitannya dengan riwayat Rama. Sepertiga sisanya baru menceritakan lanjutan riwayat Rama, tetapi agak bertentangan dengan bagian akhir Yuddha – kanda. Ada dugaan kuat bahwa kanda ke-7 ini adalah tambahan kemudian.





 
kresnayana
Relief di Candi Prambanan terdapat 2 dari 10 avatara Wisnu, yaitu Ramachandra avatara dalam kisah Ramayana, dan Kresna avatara dapat dijumpai di dinding dalam pagar langkan Candi Wisnu yang dikenal sebagai Relief Kresnayana. Secara keseluruhan, relief Kresnayana terdiri dari 30 panel yang dibagi menjadi beberapa adegan. klik untuk detail setiap panel
 
  Tanggaln2

Panel pertama mulai dari selatan pintu masuk secara pradaksina, atau berjalan menganankan candi. Pada tiap panel terdapat relief adegan yang cukup lengkap, namun ada beberapa yang sulit dicerna karena kondisi reliefnya sudah aus atau hilang. Satu hal menarik relief ini adalah hubungan yang tidak berurutan antara satu adegan dengan lainnya sehingga menimbulkan pertanyaan dari sumber naskah manakah kisah Kresnayana pada candi ini. Ada beberapa pendapat mengatakan bahwa relief Kresnayana ini bersumber dari Kakawin Kresnayana. Pendapat itu dinyatakan oleh: Van Stein Callenfels (1916), Zoetmulder )(1983), Soewito Santoso (1986), dan Anita Yoenoes (1993).

Secara umum, relief Kresnayana ini mengisahkan masa sebelum Kresna turun ke dunia, masa kanak-kanak, masa remaja, dan masa dewasa Kresna.



ARCA SIWA MAHADEWA
Arca Siwa Mahadewa di Candi Prambanan terdapat pada bilik induk Candi Siwa menghadap ke timur atau pintu utama. Posisi arca berdiri tegak di atas alas berbentuk yoni. Siwa sebagai Mahadewa merupakan Siwa berkedudukan paling tinggi, sebagai raja para dewa beristri atau sakti, Dewi Uma, atau Parwati. Dalam Trimurti, Siwa dikenal sebagai dewa perusak dunia atau pralina, biasanya ia berujud Dewa Rudra dengan istri atau sakti, Dewi Durga. Sebagai dewa perusak, Siwa yang berkendaraan nandi atau lembu adalah dewa yang paling ditakuti dan banyak dipuja masyarakat Jawa kuno. Arca ini menjadi satu dengan stela berbentuk lengkung pada bagian atasnya. Di belakang kepala terdapat sirascakra, lambang kedewaan. Jumlah tangannya empat, kedua tangan belakang ditekuk ke atas.
 
  

Tangan kanan depan ditekuk di muka dada, tangan kiri depan ditekuk di muka perut. Tangan kanan belakang memegang tasbih dari untaian manik-manik yang disebut aksamala, tangan kiri belakang memegang kelut atau camara. Telapak tangan kiri depan dalam posisi terbuka menghadap ke arah atas, sedangkan di atas telapak tangan terdapat benda semacam kuncup bunga. Arca Siwa Mahadewa berkepala satu dalam posisi tegak, dengan mata ketiga atau disebut urna di dahinya. Kepala memakai hiasan mahkota berbentuk jatamakuta yang menggambarkan keabsolutan, dan berhiaskan ardhacandrakapala atau tengkorak dan bulan sabit di bagian depan. Hiasan kepala memakai sumping, anting-anting dan kalung bersusun tiga.

Upawita berbentuk ular menjulur dari bahu kiri ke pinggang kanan. Perhiasan lain berupa ikat dada, kelat bahu berhias kala, gelang tangan dan gelang kaki, ditutup dengan kain berupa kulit harimau hingga batas lutut, yang melambangkan nafsu. Ikat pinggangnya ganda, memakai sampur terurai di kanan dan kiri pinggang. Kedua ikat pinggang atau uncal menjulur ke bawah di bawah sampur.

ARCA SIWA MAHAGURU (AGASTYA)
Arca Agasyta atau Siwa Mahaguru terdapat di bilik selatan Candi Siwa, Candi Prambanan, menghadap ke selatan. Agastya menggambarkan seorang resi yang menyebarkan agama Hindu dari India Utara ke India Selatan. Berkat jasanya itu, Agastya dianggap sebagai salah satu aspek Dewa Siwa, dengan sebutan Siwa Mahaguru. Ia anak Dewa Varuna dengan Dewi Urvasi. Arca ini berdiri di atas umpak berbentuk yoni yang dipahatkan menjadi satu dengan stela berbentuk lengkung. Stela pertama memuat tokoh, di muka stela kedua. Di belakang kepala terdapat sirascakra, di dahi terdapat urna. Karakter lain berperut buncit, berkumis berjenggot, bertangan dua, tangan kanan diletakkan di muka dada, tangan kiri di samping pinggul. Atribut tangan kanan berupa aksamala, tangan kiri membawa kendi air amerta atau kamandalu, melambangkan ketiga fungsi dewa, yakni mencipta – memelihara – merusak, dan ketiga guna, yakni sattva – rajas – tamas. Selain itu terdapat kelut atau camara, yang menempel pada bahu kiri. Hiasan kepala berupa jatamakuta, sumping, anting-anting dan kalung. Ikat bahu atau upawita berbentuk untaian tasbih dipakai di atas selempang. Dewa ini dilengkapi kelat bahu ganda, gelang tangan, ikat pinggul, sampur, kain panjang, uncal dan gelang kaki.
(

ARCA GANSEHA
  
Terdapat di bilik barat Candi Siwa menghadap ke barat. Ia dipuja sebgai dewa ilmu pengetahuan dan penolak marabahaya. Oleh karena itu Ganesha selalu disebut pertama kali dalam setiap upacara keagamaan dan kurban.

Ganesha adalah anak Dewa Siwa dengan Dewi Uma atau Parwati, yang memiliki banyak nama,yaitu: Ganapati, Lambodara, Surpakarna dan Ikadanta dan berkendaraan tikus. Arca ini berkepala gajah, tubuhnya seperti orang kerdil, berperut buncit, dan bersila di atas padmasana dengan kedua telapak kakinya saling bertemu.

Arca Ganesha ini dipahatkan di stela berbentuk lengkung, bersandar pada stela kedua. Di Kanan kiri stela belakang bagian bawah ada hiasan makara. Di bawah padmasana berupa umpak berbentuk yoni dengan hiasan sulur gelung di sisi depan. Berkepala satu berhiaskan sirascakra dan memiliki mata ketiga atau urna. Ujung belalai berada di dalam tempurung yang disangga dengan tangan kirinya. Ia bertangan empat, kedua tangan depan ditekuk ke muka di atas lutut, tangan kiri menyangga tempurung. Sedangkan kedua tangan belakang ditekuk ke atas, tangan kanan memegang aksamala, tangan kiri memegang kapak perang atau parasu. Kepala memakai jatamakuta berhiaskan ardhacandrakapala. Upawita berbentuk ular, memakai ikat dada, kalung ganda, kain panjang, ikat pinggang, uncal, sampur, kelat bahu ganda, gelang tangan dan kaki.

ARCA RARA JONGGRANG (DURGA MAHISASURAMARDHINI)
  
Arca Durga atau Rara Jonggrang berada di bilik sisi utara Candi Siwa menghadap ke utara. Berkepala satu memiliki mata ketiga atau urna pada dahinya, berdiri di atas seekor lembu dengan latar belakang dua buah stela, dan bertangan delapan. Empat tangan kanannya, yang pertama memegang cakra melambangkan perputaran dunia atau roda dharma, yang kedua memegang pedang atau khadga sebagai simbol penerangan akal budi, yang ketiga memegang bana atau anak panah, dan yang keempat memegang ekor Mahisa. Empat tangan kirinya, yang pertama memegang terompet dari kerang atau disebut cangka, yang kedua memegang perisai atau khetaka yang menggambarkan dharma, yang

ketiga memegang busur atau dhanus, dan yang keempat memegang rambut asura.Di dalam bilik tersebut terdapat juga raksasa memegang gada berdiri di atas kepala Mahisa. Di belakang kepala berhiaskan sirascakra. Sedangkan hiasan kepala berupa jatamakuta dengan jamang tunggal, sumping, anting-anting, dan kalung ganda. Upawita berupa untaian manik-manik berpilin, di bawahnya terdapat untaian permata sebagai ikat dada, berkain panjang mulai di pinggang hingga pergelangan kaki, ikat pinggang, ikat pinggul untaian permta, sampur bersusun dua, salah satunya di atas uncal, berkelat bahu berbentuk simbar, gelang tangan dan kaki.

ARCA MAHAKALA dan NANDISWARA
  
Kedua arca ini berada di bagian bilik kanan kiri pintu masuk Candi Siwa sebagai dewa penjaga pintu atau dwarapala. Mahakala berada di bilik kanan pintu masuk. Arca ini sebagai aspek Dewa Siwa dalam bentuk krodha. Roman mukanya berujud raksasa dengan senjata gada di tangan kanannya, berdiri di atas padmasana dan bersandarkan stela. Belakang kepala terdapat sirascakra. Hiasan kepala berupa mahkota, anting-anting dan kalung.
Mahakala adalah simbol penguasa dewa waktu. Nandiswara atau sering disebut Nandikesvara ada di bilik kiri pintu masuk sebagai pengiring Dewa Siwa, atau duplikat Dewa Siwa yang bergelar Adhikaranandin.

Nandiswara atau sering disebut Nandikesvara ada di bilik kiri pintu masuk sebagai pengiring Dewa Siwa, atau duplikat Dewa Siwa yang bergelar Adhikaranandin. Berdiri di atas padmasana, bersandarkan stela. Belakang kepala terdapat sirascakra. Jumlah tangannya dua, telapak tangan kanan terbuka menghadap ke depan yang di atasnya terdapat benda semacam bunga. Tangan kiri memegang kelut atau camara. Perhiasan kepala berupa jatamakuta, anting-anting dan kalung.

LOKAPALA
Arca-arca Lokapala atau Dikpalaka adalah dewa-dewa penjaga mata angin. Dipahatkan di dinding kaki Candi Siwa di tingkat satu semua penjuru mata angin. Jumlahnya 24 buah, secara garis besar nama dewa dan posisi mata angin adalah sebagai berikut:

Lokapala Laksana / Simbol Tangan Arah
Indra wajra & teratai 2 timur
Agni trisula, waramudra 2 tenggara
Yama kumuda 2 selatan
Niruti kumuda 2 barat daya
Baruna pasa & teratai 2 barat
Bayu trisula 2 barat laut
Kuwera padma, cangka & pundi-pundi 2 utara
Isana trisula, padma & tengkorak 2 timur laut

Mitologi Hindu menyebutkan bahwa matahari terbit dari timur merupakan sumber kekuatan, oleh karena itu para dewa tinggal di sebelah timur, dan Dewa Indra sebagai penguasa arah timur. Arah selatan dipandang sebagai tempat kemalangan. Kematian adalah kemalangan terbesar, oleh karena itu Yama sebagai dewa kematian menjadi pengawal arah selatan. Baruna, dewa air menjadi pengawal arah barat karena barat dianggap lautan luas dan dalam. Para Yaksha dianggap bermukim di utara, oleh karena itu penjaga utara adalah Dewa Kuwera.

ARCA PENARI dan PEMUSIK
Letaknya di bawah ratna pagar langkan Candi Siwa dinding luar. Panel arca penari dan pemusik berjumlah 132 buah disusun berjajar mengelilingi langkan Candi Siwa. Ekspresi penari yang lemah gemulai dan dinamis menampilkan tarian: samabhanga, abhanga, tribhanga, alidha dan patyalidha. Peralatan musik sebagai iringan, antara lain: seruling, kecrek, kendang dan kecapi.

ARCA DEWA BRAHMA
  
Arca Brahma berdiri di atas umpak berbentuk yoni di dalam bilik Candi Brahma. Jumlah tangannya 4 lengan menggambarkan arah mata angin, utara, timur, selatan, dan barat. Kedua tangan belakang ditekuk ke atas tanpa atribut, kedua tangan depan dalam posisi sedikit ditekuk ke muka di kanan kiri pinggul. Tangan kanan depan membawa semacam bunga, tangan kiri depan membawa kamandalu. Mata ketiga atau urna pada dahinya yang menghadap ke depan. Aksesori kepala berupa jatamakuta, anting-anting panjang, kalung ganda, upawita berupa untaian permata, ikat dada, kelat bahu ganda, gelang tangan, berkain panjang hingga pergelangan kaki, dilengkapi ikat pinggul, sampur ganda, uncal dan gelang kaki.

 

ARCA BRAHMA SEBAGAI RESI
Berada di atas pagar langkan atau di bawah ratna Candi Brahma. Panel-panel arca di dalam relung disusun berjajar mengelilingi langkan candi dinding luar. Arca Brahma sebagai resi dengan sikap duduk bersila sejumlah 76 buah, mencerminkan wajah yang tenang tanpa beban keduniawian.

ARCA DEWA WISNU
Di dalam bilik Candi Wisnu kompleks Candi Rara Jonggrang sisi utara terdapat satu-satunya arca Dewa Wisnu, dewa pemelihara atau sthiti yang melangsungkan kehidupan alam semesta. Arca ini berdiri di atas umpak batu berbentuk yoni, bersandarkan pada stela berbentuk melengkung bagian atasnya. Bertangan 4 lengan, kedua tangan belakang ditekuk ke atas, kedua tangan depan berada di kanan kiri pinggul, sedikit ditekuk ke depan.Tangan kanan belakang membawa cakra, tangan kirinya memegang cangka bersayap yang menggambarkan langit. Tangan kanan depan membawa gada, tangan kirinya memegang kuncup teratai.Berkepala satu dengan hiasan jatamakuta, jamang bersimbar lima, sumping, anting yang menjulur ke bahu, kalung bersusun dua, ikat dada, upawita berupa untaian berpilin, berkain panjang sampai pergelangan kaki, dilengkapi ikat pinggang ganda, sampur ganda, uncal dan gelang kaki.

ARCA WISNU SEBAGAI PENDETA
Arca ini berada di pagar langkan dinding luar Candi Wisnu sebanyak 72 buah. Posisi duduk bersila, bermahkota dan masing-masing arca memakai atribut bunga padma, tasbih, dan cakra.

ARCA GANA
Arca yang terdapat di pilar pintu masuk gapura Candi Siwa, Wisnu, Brahma dan Apit dengan bentuk tubuh gemuk, pendek dan berperut gendut, kadang arca ini dengan roman muka seperti raksasa. Selain itu terdapat pula di sekeliling atap candi di bawah ratna dengan posisi jongkok menyangga ratna , berambut lurus, dan berwajah tenang. Arca Gana dikenal sebagai pengiring atau pelayan Dewa Siwa, dan sering disebut sebagai Siwaduta.

Candi

http://students.ukdw.ac.id/~22023009/prambanan.html
prambanan imagePeninggalan Hindhu terbesar di Jawa Tengah dan Daerah IstimewaYogyakarta ini terletak lebihkurang 17 kilometer disebelah timur laut Yogyakarta. Candi Prambanan merupakan komplek percandian dengan candi induk menghadap ke arah timur , dengan bentuk secara keseluruhan menyerupai gunungan pada wayang Kulit setinggi 47 meter. Agama Hindhu mengenal Tri Murti yang terdiri dari Dewa Brahma sebagai Sang Pencipta, Dewa Whisnu sebagai Sang Pemelihara, Dewa Shiwa sebagai Sang Perusak. Bilik utama dari candi induk ditempati Dewa Shiwa sebagai Maha Dewa sehingga dapat disimpulkan bahwa candi Prambanan merupakan candi Shiwa. Candi Pramabanan atau Candi Shiwa ini juga sering disebut sebagai candi Roro Jonggrang berkaitan dengan Legenda yang menceriterakan tentang seorang dara yang Jonggrang ( jangkung ) Putri Prabu Boko , Raja ini membangun kerajaannya di atas bukit sebelah selatan komplek candi Prambanan, bagian tepi candi dibatasi dengan pagar langkan yang dihiasi dengan relief cerita Ramayana yang dapat dinikmati dengan berperadaksina ( berjalan mengelilingi candi dengan pusat candi selalu di sebelah kanan kita ) melalui lorong itu , ceritera berlanjut pada pagar langkan candi Brahma yang terletak kiri ( sebelah selatan ) candi induk. Sedang pada pagar langkan candi Whisnu yang terletak disebelah kanan (sebelah utara ) candi induk, terdapat relief ceritera Kresna Dwipayana yang menggambarkan tentang kisah masa kecil Prabu Khrisna sebagai penjilmaan ( titisan ) Dewa Whisnu dalam membasmi keangkara murkaan yang hendak melanda dunia. Bilik candi induk yang menghadap ke arah utara berisi patung Durga, permaisuri Dewa Shiwa. tetapi umumnya masyarakat menyebut sebagai patung Roro Jonggrang, yang sebelumnya tubuh hidup dari putri cantik itu yang dikutuk oleh Ksatria Bandung Bondowoso , untuk melengkapi kesanggupannya menciptakan seribu buah patung dalam waktu satu malam .

Candi Brahma dan candi Whisnu masing - masing hanya memiliki satu buah bilik , yang ditempati oleh patung dewa - dewa yang bersangkutan. Dihadapan ketiga candi dari Dewa Trimurti itu terdapat tiga buah candi yang berisi wahana atau kendaraan ketiga dewa tersebut, Ketiga dewa itu kini dalam keadaan rusak dan hanya candi yang ditengah ( didepan candi Shiwa ) yang masih berisi patung seekor lembuyang bernama Nandi ( kendaraan dewa Shiwa ) . Patung Angsa sebagai kendaraan Brahma dan patung Garuda sebagai kendaraan dewa Wishnu yang diperkirakan dulu mengisi bilik - bilik candi yang terletak dihadapan candi kedua Dewa itu, kini telah hilang . Keenam candi itu merupakan kelompok yang saling berhadap - hadapan , terletak pada sebuah halaman berbentuk bujur sangkar , dengan sisi panjang 110 meter. Di dalam halaman masih berdiri candi - candi lain, yaitu 2 buah candi pengapit dengan ketinggian 16 meter yang saling berhadapan, yang sebuah berdiri di sebelah Utara dan yang lain berdiri di sebelah selatan, 4 buah candi kelir dan 4 buah candi sudut.

Halaman dalam yang dianggap masyarakat Hindhu sebagai halaman paling sakral ini, terletak di tengah halaman tengah yang mempunyai sisi 222 meter, dan pada mulanya berisi candi - candi perwara sebanyak 224 buah berderet -deret mengelilingi halaman dalam tiga baris ,. Diluar halaman tengah ini masih terdapat halaman luar yang berbentuk segi empat dengan sisi sepanjang 390 meter, Komplek candi Prambanan dibangun oleh Raja - raja Wamca (Dinasty ) Sanjaya pada abad ke 9 dan kini merupakan obyek wisata yang dapat dikunjungi setiap hari antara pukul 06.00 - 17.30. Komplek candi Prambanan terletak hanya beberapa ratus meter dari jalan Raya Yogya - Solo yang ramai dilintasi kendaraan umum.

Best in 800*600 Resolution
Copyright Michael Budianto 2004
22023009


http://students.ukdw.ac.id/~22023009/prambanan.htmlhttp://students.ukdw.ac.id/~22023009/prambanan.htmlhttp://students.ukdw.ac.id/~22023009/prambanan.html




 Candi Prambanan
Sebagai peninggalan kebudayaan Hindu terbesar di Indonesia, Candi Prambanan memang memiliki pesona keindahan tersendiri. Sebab selain bentuk bangunan dan tata letaknya yang menakjubkan, candi Prambanan juga menyimpan kisah sejarah dan legenda yang sangat menarik wisatawan. Tak heran bila candi yang terletak di tepi jalan raya 17 Km dari Yogyakarta menuju Solo ini menjadi obyek wisata andalan bagi kedua kota tersebut.
  Komplek candi yang dibangun pada abad 9 M ini memiliki tiga bangunan utama berarsitektur indah setinggi 47 meter. Ketiga bangunan tersebut melambangkan Trimurti, yaitu ajaran tentang tiga dewa utama yang terdiri dari Candi Siwa (Dewa Pelebur) di tengah,
Candi Brahma (Dewa Penjaga) di selatan, dan Candi Wisnu (Dewa Pencipta) di utara. Kemudian di depan bangunan utama ini terdapat tiga candi yang lebih kecil sebagai perlambang Wahana (kendaraan) dari Trimurti. Ketiga candi tersebut adalah Candi Nandi (kerbau) yang merupakan kendaraan Siwa, Candi Angsa kendaraannya Brahma, dan Candi Garuda kendaraan Wisnu.

Para wisatawan juga dapat melihat dan mengikuti kisah cerita Ramayana yang reliefnya dipahatkan searah jarum jam pada dinding pagar langkan Candi Siwa dan bersambung di Candi Brahma. Sedangkan pada pagar langkan Candi Wisnu dipahatkan relief cerita Krisnayana.

Legenda Candi Prambanan

Memasuki Candi Utama (Candi Siwa) dari arah utara, wisatawan juga dapat melihat patung seorang putri cantik bernama Roro Jonggrang. Menurut legenda, Roro Jonggrang adalah putri Raja Boko yang ingin dinikahi oleh Bandung Bondowoso, seorang lelaki perkasa Putra Raja Pengging. Roro Jonggrang yang tidak mencintai Bandung, berusaha menolak pinangan ini dengan mengajukan syarat agar dibuatkan seribu candi dalam satu malam.

Dengan kekuatan supranatural, Bandung menyanggupi syarat tersebut dan hampir berhasil menyelesaikan tugasnya. Roro Jonggrang yang panik, berusaha menggagalkan keberhasilan ini dengan mengerahkan para wanita desa untuk membakar jerami dan menumbuk padi sehingga suasananya berubah seperti pagi hari.

Mengira tenggat waktunya telah berakhir, semua kekuatan supranatural yang membantu Bandung berlarian. Tak ayal, pekerjaan yang nyaris selesai akhirnya terbengkalai. Kegagalan ini tentu saja membuat Bandung murka. Dan karena tidak dapat menahan amarahnya, Bandung mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah patung.

Kisah legenda tersebut secara lengkap dapat wisatawan lihat di gedung Museum yang berada di dalam lokasi Candi Prambanan. Sebab selain memiliki ruang Audio Visual yang memutarkan film selama 15 menit tentang sejarah ditemukannya Candi Prambanan hingga proses renovasi dan purna pugarnya secara lengkap, Museum ini juga memamerkan koleksi benda-benda arkeologi serta perhiasan-perhiasan peninggalan raja Mataram kuno yang ditemukan di Wonoboyo, Klaten.
http://www.klaten.go.id/pariwisata.shtml



UNESCO Mendata Kerusakan Candi Prambanan
Selasa, 06 Maret 2007 | 19:09 WIB

TEMPO Interaktif, Yogyakarta:Direktur UNESCO Hubert Gijzen beserta sejumlah ahli renovasi bangunan bersejarah mengunjungi kompleks candi Prambanan, Selasa. Mereka melihat langsung tingkat kerusakan candi akibat gempa 27 Mei 2006, sekaligus mengumpulkan bahan untuk menentukan strategi rehabilitasi bangunan peninggalan purbakala itu.

Turut serta dalam rombongan antara lain Prof Giorgio Crocci (UNESCO Italia), Richard Engelhardt (UNESCO Asia-Pasifik), Ahmad Katoah (Sekretaris 1 Kedutaan Besar Kerajaan Arab Suadi di Jakarta) serta Hari Untoro Dradjat (Direktur Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Kebudayaan dan Pariwisata).

Setelah menerima penjelasan singkat tentang kompleks candi melalui sejumlah foto, rombongan memasuki halaman candi induk Prambanan. Dua buah ratna (puncak candi) tampak masih tergeletak di halaman, sementara reruntuhan yang lebih kecil sudah dikumpulkan di luar candi. Mereka juga sempat meninjau retakan vertikal yang terjadi di Candi Siwa dan Candi Brahma (dua buah candi utama).

Selain ke candi induk, rombongan juga mengunjungi candi Sewu, candi Budha yang turut rusak berat. Di lokasi ini, sejumlah pejabat UNESCO mengambil gambar kerusakan candi dari jarak dekat.

Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta Condroyono pernah mengungkapkan, renovasi Prambanan memerlukan dana sekitar Rp 300 miliar. Heru C.N 
http://www.tempointeraktif.com/hg/nasional/2007/03/06/brk,20070306-94891,id.html

CANDI PRAMBANAN

imagePrambanan adalah sebuah daerah yang indah dan subur. Pada jaman kuno, Prambanan merupakan sebuah ibukota - yang sekarang dikenal sebagai “Kraton Boko” - berdiri. Tetapi sangat disayangkan bahwa reruntuhan istana tersebut tidak dapat memberikan petunjuk akan adanya sebuah Kerajaan dan para raja yang pernah berkuasa pada saat itu. Sebuah petunjuk yang lebih jelas berasal dari prasasti Kalasan yang menulis dengan huruf-huruf yang berkarakter dari tahun 778 M. Hal ini diperjelas dalam prasasti Raja Balitung pada tahun 907 M. Prasasti Raja Balitung menyebutkan silsilah raja-raja yang berkuasa saat itu dimana Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu adalah sedang berkuasa pada jaman tersebut.

Pada saat yang sama, selama periode tersebut, agama Budha yang merupakan agama dari Dinasti Syailendra juga sedang berkembang. Dinasti Syailendra mempunyai hubungan yang sangat erat dengan Kerajaan Sriwijaya di Palembang. Pada waktu tertentu di jaman itu, agama Budha mencapai puncaknya dan meninggalkan banyak bangunan yang masih berdiri hingga kini.

Candi Prambanan seperti yang dikenal sekarang, merupakan sebuah nama yang diberikan bagi kompleks candi yang dilestarikan. Pada kenyataannya, lebih tepat jika disebut Candi Siwa karena sesuai dengan karakter candi tersebut. Beberapa bangunan candi telah direstorasi tetapi kebanyakan telah menjadi puing-puing reruntuhan(www.yogyes.com).
< <>>
http://www.smilejogja.com/serba-serbi/wisata-jogja/prambanan/


06 Juni 2006
Candi Prambanan Ditutup Sementara
 
Presiden RI Susilo Bambang Yudhotono (SBY) meninjau Candi Prambanan, Selasa (30/5, meminta agar Candi Prambanan ditutup sementara bagi wisatawan menyusul kerusakan akibat gempa berkekuatan 5,9 skala Richter yang menggoncang Kota Yogyakarta dan Jawa tengah. Turut hadir antara lain Ibu Negara Ny. Ani Yudhoyono, Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo. Menteri Kesehatan Siti Fadilah Supari, Menteri Kebudayaan dan Pariwisata jero Wacik, menteri keuangan Sri Mulyani dan Seskab Sudi Silalahi. SBY tiba di candi Prambanan pukul 11.00 WIBlangsung berkeliling meninjau Candi Prambanan dan diberi penjelasan oleh petugas Balai Kepurbakalaan. Supaya tidak kelilipan debu reruntuhan candi dan menghalau silaunya matahari, SBY pun mengenakan kaca mata coklat sambil menunjuk bagian Cnadi garuda yang pada bagian atasnya tampak miring dan dapat jatuh kapan saja. Kita akan memeperbaiki Prambanan dengan tidak mengubah ciri khas candi.Kita bisa bekerja sama dengan lembaga dunia dan menteri untuk menjaga peninggalan budaya ini.Sebelum dinyatakan aman, Candi Prambanan belum dibuka untuk umum, jika pengunjung ingin melihat lebih jauh diperbolehkan tetapi jangan memasuki areal percandian. Sementara itu Candi-candi yang mengalami kerusakan seperti Candi Syiwa, Prambanan dikelilingi bambu-bambu yang kokoh guna menopang kerusakan candi akibat gempa. Juga Candi Garuda mengalami kerusakan yang parah, Candi tampak miring dan bagian ujung candi pun tampak mengkhawatirkan. gapura candi garuda rusak berat. demikian pula dengan pagar di sekeliling candi yang roboh. Akibatnya puing-puing candi pun berserakan. Puing itu memang sengaja dibiarkan berserakan sampai ada pemerikasaan dari petugas candi. Candi Brahma di areal Prambanan juga mengalami kerusakan, namun tidak separah Candi garuda. Puing-puing candi pun masih dibiarkan berserakan sedangkan pagar candi ambruk yang mengakibatkan petung-patung di candi itu berjatuhan.

http://members.bumn-ri.com/borobudur/news.html?news_id=14156


Pemugaran Candi: Dari Borobudur untuk Prambanan
Senin, 11/06/2007 - 10:10 - dikirim oleh: fajar. Berita

Setahun sudah kejadian gempa Yogya berlalu. Namun, penderitaan masyarakat masih belum beranjak dari sana, dan berbagai masalah pun belum terselesaikan, di antaranya soal kerusakan Candi Prambanan.

Bebatuan yang tersusun dan terukir menjadi bangunan yang indah bentuknya itu adalah paduan karya arsitektur dan budaya yang tak ternilai serta mempunyai multimanfaat. Borobudur dan Prambanan dua di antara puluhan hingga ratusan situs candi yang pernah ditemukan di Indonesia adalah ikon atau ciri khas budaya Nusantara di mata dunia.

Bagi masyarakat Buddha dan Hindu, dua obyek peribadatan itu wajib dikunjungi untuk melakukan prosesi ritual mereka pada hari-hari besar keagamaan. Pada hari Waisak, Jumat (1/6) pekan lalu, misalnya, umat Buddha berbondong-bondong mendatangi “rumah peribadatan” Bodobudur itu.

Ketika candi Buddha Mahayana yang dibangun pada abad ke-10 itu mengalami kerusakan berarti pada tahun 1948, Pemerintah Indonesia pada tahun 1965 meminta dukungan dari Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan PBB (UNESCO) untuk melakukan perbaikan.

Pada tahun 1968, profesor Soekmono, seorang arkeolog, meluncurkan kampanye “Save Borobudur” dan memimpin proyek besar restorasi itu. Lebih dari 15 tahun dan 20 juta dollar AS diperlukan untuk pemugaran Borobudur, dan melibatkan tenaga profesional dari 27 negara. Selama masa restorasi yang memakan waktu 8 tahun, lebih dari satu juta blok batu dipindahkan dan dipasang kembali seperti menata kepingan jig-saw puzzle. Ada 13.000 panel batu pahatan yang harus dibersihkan dan dirawat untuk preservasi.

Untuk megaproyek ini dilibatkan para insinyur, ahli kimia, biologi, arkeologi, dan arsitektur yang saling berbagi keahlian dalam mengatasi masalah tersebut. Mereka di antaranya menerapkan beberapa teknik konservasi baru, termasuk prosedur baru untuk mengatasi kerusakan batuan oleh mikroorganisme.

Di antara pakar yang terlibat adalah doktor teknik sipil, Vijay K Khandelwal dari IBM India, yang sebelumnya juga menangani restorasi candi di negaranya. Memperingati 70 tahun berdirinya IBM Indonesia, 26 Mei 2007, dipamerkan dokumentasi hasil aplikasi komputer untuk membantu restorasi Borobudur.

Dalam laporannya pada tahun 1975, Vijay yang melaksanakan proyeknya selama dua tahun menjelaskan, peran komputer terutama dalam melaksanakan tiga tugas penting untuk pemugaran Borobudur, yaitu pengendalian proyek, meregistrasi batuan, dan memadupadankan batuan yang hilang dan rusak atau terlepas dari susunannya (matching missing stones).

Dalam proses pemugaran Borobudur, sekitar 750.000 batuan yang penting diberi nomor sebelum diurai. Akurasi sistem pelaporan ini akan menjamin tidak ada batu yang mendapat perlakuan kimiawi yang salah, kesalahan dalam penempatannya kembali, mudah dan cepat dilacak bila diperlukan. Diketahui ada sekitar 40.000 bagian batuan candi yang harus menjalani “perawatan” karena mengalami kerusakan dan memerlukan waktu pemugaran hingga lima tahun.

Sistem juga akan mengoptimasikan perencanaan pemugaran, efisiensi proses analisis, koordinasi antarberbagai operasi, dokumentasi dan analisis ilmiah perawatan batuan, serta penggunaan bahan kimia dalam proses perawatan.

Dengan sarana komputer, pekerjaan restorasi dapat selesai dengan cepat dan hasilnya akurat. Dalam pemrosesan data itu digunakan komputer sistem mainframe yang ketika itu berukuran sangat besar, memenuhi ruangan 5 meter x 5 meter. “Sistem komputer ini juga telah diterapkan untuk proyek pemugaran Piramida di Mesir, dan membantu menyelamatkan kota Venisia yang tenggelam,” urainya.

Restorasi Prambanan

Belajar dari pengalaman pada proyek restorasi Borobudur, mantan Direktur Utama IBM Indonesia Joni P Soebandono, Kamis (31/5), mengatakan ada baiknya sistem komputer juga diaplikasi pada restorasi Candi Prambanan. Hal ini ditimpali Dirut perusahaan komputer saat ini, Betti Alisyahbana, yang akan menjajaki kemungkinan berpartisipasi dalam proyek pemugaran Prambanan.

Namun Joni, yang kini menjadi dosen manajemen, bisnis, dan psikologi di beberapa perguruan tinggi ini mengharapkan ada insentif dari pemerintah berupa keringanan pajak bagi perusahaan yang mengalokasikan dananya—lewat program Social Corporate Responsibility—membantu pemugaran warisan budaya yang bernilai tinggi ini. Penanganan pemugaran candi juga memerlukan kolaborasi banyak perusahaan dan lembaga.

Seperti diketahui, Candi Prambanan dan Borobudur merupakan obyek wisata yang menarik, setiap tahun dikunjungi sekitar sejuta wisatawan domestik dan mancanegara. Lokasinya kira-kira 18 kilometer sebelah timur Yogyakarta di Desa Bokoharjo. Dibangun pada tahun 850 pada masa Kerajaan Mataram Hindu dengan rajanya Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya.

Sebagai salah satu candi Hindu terbesar di Asia Tenggara, Prambanan dinyatakan UNESCO sebagai situs warisan dunia. Ketika terjadi gempa pada 27 Mei 2006, sebagian tumpukan batu di puncak candi setinggi 47 meter itu runtuh. Sedangkan Borobudur yang turut diguncang gempa hanya sedikit retak.

Guru besar arkeologi Universitas Gadjah Mada Timbul Haryono mengatakan, akibat gempa itu candi yang terletak di antara Yogyakarta dan Klaten ambles atau turun hingga 10 cm.

Upaya rehabilitasi Prambanan dan Taman Sari (juga di Yogyakarta), sebenarnya tim dari UNESCO yang April lalu telah melakukan survei ke lokasi. Dalam menggalang partisipasi internasional, Kantor UNESCO di Jakarta, Departemen Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia dengan bantuan pendanaan dari Kerajaan Arab Saudi menyelenggarakan pertemuan para ahli internasional di Yogyakarta pada 5-8 Maret 2007.

Tujuan pertemuan itu untuk mempersiapkan Action Plan yang terintegrasi dalam pemulihan pascagempa dan rehabilitasi di situs-situs budaya penting ini. Formulasi Rencana Aksi juga melibatkan ahli dari Australia, China, India, Italia, Jepang, dan Amerika Serikat. Sebelum itu tim ahli dari Jepang Maret lalu telah melakukan riset teknis selama tiga minggu di Prambanan.

Restorasi Prambanan, jelas Richard Engelhardt, UNESCO Regional Advisor untuk Kebudayaan di Asia Pasifik dalam pertemuan di Yogyakarta itu, terkait dengan Konvensi Warisan Dunia UNESCO pada tahun 1972 yang telah merumuskan kerangka kerja internasional untuk konservasi warisan budaya. Ketika itu ada 183 negara yang berkomitmen melindungi 830 situs alam dan budaya sebagai warisan dunia.

Sementara itu, Direktur Kantor UNESCO Jakarta Hubert J Gijzen menekankan pentingnya Kampanye Penyelamatan Internasional koordinasi dalam restorasi dan manajemen berkelanjutan terhadap situs warisan dunia, yaitu Borobudur, Prambanan, dan Taman Sari. Semua obyek wisata budaya itu menempatkan Yogyakarta sebagai “the Cultural Hub of Indonesia”. (YUNI IKAWATI)
http://jibis.pnri.go.id/aktivitas/berita/thn/2007/bln/06/tgl/11/id/1026

ANDI PRAMBANAN

Memasuki Candi Utama (Candi Siwa) arah Utara, Pengunjung dapat melihat patung seorang putri cantik(Roro Jonggrang).

Menurut legenda, Roro Jongrang adalah putri Raja Boko yang dikutuk menjadi patung oleh Bandung Bondowoso (Seorang lelaki Perkasa Putra Raja Pengging)yang ingin menikahinya. Roro Jongrang tidak mencintai, Bandung Bondowoso bersedia dinikahi dengan mengajukan syarat apabila Bandung dapat membuatkan seribu candi dalam satu malam dan Bandung menyanggupinya.

Dengan kekuatan supra naturalnya Bandung hampir menyelesaikan tugasnya,namun Roro Jonggrang berusaha menggagalkan dengan cara memerintah para wanita desa yang berada disebelah timur tempat Bandung membuat Candi untuk membakar jerami dan menumbuk padi, hingga suasananya seperti dini hari dan ayam-ayam pada berkokok,maka pada saat itu kekuatan supra natural untuk menggunakan jin/setan berlarian semua karena mereka mengira pagi telah datang. Dan karena tidak dapat menahan amarahnya Bandung mengutuk Roro Jonggrang menjadi sebuah patung.

CANDI PRAMBANAN

Candi Prambanan merupakan Candi Hindu terbersar di Indonesia,Berketingian 47 meter,dibangun pada abad 9,Letaknya berada 17 km arah timur Jogyakarta di tepi jalan raya menuju Solo,Candi yang utama yaitu Siwa(Tengah)Candi Brahma(Selatan) dan Candi Wisnu(utara)didepannya terletak candi Wahana(Kendaraan) sebagai kendaraan Trimurti; Candi Angsa adalah kendaraan Brama(Dewa Penjaga);Candi Nandi(Kerbau) adalah kendaraan Siwa(Perusak)dan Candi Garuda adalah kendaraan Wisnu(Dewa Pencipta).

Pada dinding pagar langkan Candi Siwa dan Candi Brahma dipahat relief cerita Ramayana tersebut searah jarum jam, dan rwlief selanjutnya disambung di Candi brahma. 
http://www.jawatengah.go.id/loader2.php?SUB=potensi&DATA=wisata&KOTA=kabupaten_klaten


Candi Prambanan Rusak Berat

Candi Prambanan. Foto: Java Media Center
Meski hanya berkekuatan 5,9 skala Reichter namun gempa tektonik ini mampu mengakibatkan kompleks Candi Prambanan di perbatasan Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten, Jawa Tengah rusak berat. Kerusakan paling tampak pada Candi Brahma, yang terletak di sebelah selatan candi terbesar, Candi Syiwa di kompleks percandian yang dibangun pada abad kesembilan itu.

Dari pengamatan Kompas, dari tiga candi utama di kompleks percandian itu, Candi Brahma mengalami kerusakan yang paling berat. Sebagian besar batu, ornamen, dan relief candi yang di dalamnya terdapat patung Dewa Brahma itu runtuh. Bahkan, batu itu berserakan di pelataran candi.
Candi Prambanan. Foto: Java Media Center

Bahkan, bagian dalam Candi Brahma runtuh, dan batu candi maupun ornamen menyumpal di pintu masuk bangunan itu. Kerusakan juga terlihat pada sebagian candi perwara, candi apit, dan candi angsa yang terletak di depan Candi Brahma. Selain batu candi yang berserakan, pada tanah di sekitar candi pun tampak rekahan, meskipun tidak terlalu dalam.

Bangunan batu yang menjadi pintu gerbang masuk ke kompleks percandian itu juga runtuh, sehingga tidak bisa digunakan lagi. Selain itu, sebagian bagian perkantoran Taman Wisata Candi Prambanan, yang terletak di kompleks percandian itu, seperti diakui Direktur Utamanya Wagiman Sudiyarso, mengalami kerusakan, terutama bagian atap. Tetapi, tidak ada korban jiwa maupun terluka di kompleks candi dan perkantoran itu.

Direktur Purbakala Direktorat Jenderal Sejarah dan Purbakala Departemen Budaya dan Pariwisata Suroso, yang ditemui di kompleks Candi Prambanan, mengaku prihatin dengan kerusakan yang terjadi di Candi Brahma itu. Anda melihat sendiri kondisinya, Candi Brahma mengalami rusak berat. Butuh waktu lama untuk menata dan memperbaiki kembali candi itu, jelasnya.
Candi Prambanan. Foto Java Media Center

Pintu utama masuk Candi Brahma retak, sehingga harus dibongkar. Menurut Suroso, pembongkaran itu membutuhkan waktu sekurang-kurangnya setahun. Tetapi, yang lebih lama adalah menata kembali bebatuan itu. Meskipun gambar candi itu kami sudah punya, tetapi untuk pembangunannya membutuhkan waktu lama, bisa dua tahun, katanya lagi.

Selain kompleks Candi Prambanan yang mengalami kerusakan, Suroso menuturkan, sejumlah candi di Jateng dan Yogyakarta juga rusak, akibat gempa bumi. Candi Plaosan dan Candi Sewu di Kabupaten Klaten, Candi Sojiwan di Kabupaten Magelang, dan Candi Ratu Boko di Kabupaten Sleman (DIY) dilaporkan rusak. Bahkan, bagian kepala (stupa atas) Candi Plaosan dan sebagian Candi Sewu runtuh.

Suroso mengakui sudah melihat kondisi Candi Plaosan, Candi Sewu, dan Candi Sojiwan yang juga rusak berat akibat terkena gempa bumi itu. Tetapi, Candi Borobudur tak mengalami kerusakan berarti, paparnya. Namun, karena terjadi gempa bumi, pagelaran sendratari Borobudur di pelataran Candi Borobudur, Sabtu malam dibatalkan.

Wagiman Sudiyarso menambahkan, dengan rusaknya kompleks Candi Prambanan itu, obyek wisata utama di perbatasan Jateng dan DIY itu untuk sementara ditutup. Ia belum bisa memastikan kapan obyek wisata, yang terkenal dengan patung Roro Jonggrang dan sendratari Ramayana, itu akan dibuka kembali untuk umum.

Sumber: Kompas 27mei 2006, Kompas Cyber Media. www.kompas.com