Selasa, 15 Mei 2018

bahasa sastra Indonesia di era digital yang ALAY

              BAHASA SASTRA INDONESIA, bahasa Indonesia dan Bahasa Sastra Indonesia adalah hal yang sama. Tapi meliki perbedan Juga. bahasa sebagai bagian alat komunikasi memilik keterbatasan yang ditentukan oleh makna yang dapat diterima pendengarnya.  sedangkan bahasa sastra adalah bahasa yang dimodifikasi oleh penulisnya untuk memenuhi estetika yang diinginkan pada karya  sastra.   
             Pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu: keseluruhan ciri-ciri bahasa sekelompok penulis sastra: cara khas dalam menyatakan pikiran dan perasaan dalam bentuk tulis atau lisan ( Hasan dalam Murtono, 2010:15). Gaya bahasa yang diapakai bersifat individu dan dapat juga bersifat kelompok. Gaya bahasa yang bersifat individu disebut idiolek, sedangkan yang bersifat kelompok (masyarakat) disebut dialek.  Sudjiman (1998: 13) menyatakan bahwa sesungguhnya gaya bahasa dapat digunakan dalam segala ragam bahasa baik ragam lisan, tulis, nonsastra, dan ragam sastra, karena gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa dalam konteks tertentu oleh orang tertentu untuk maksud tertentu. Akan tetapi, secara tradisional gaya bahasa selalu ditautkan dengan teks sastra, khususnya teks sastra tertulis. Gaya bahasa mencakup diksi atau pilihan leksikal, struktur kalimat, majas dan citraan, pola rima, matra yang digunakan seorang sastrawan atau yang terdapat dalam sebuah karya sastra.  

             Bahasa Sastra adalah bahasa yang universal, umumnya bahasanya mudah dimengerti oleh orang bahkan hampir semua masa. meski para karya satrawan hidup di budaya pada zamanya. kaedah penulisan juga menyesuaikan jamanya juga.  mata pelajaran Bahasa Indonesia merupakan pondasi dalam pengajaran Bahasa yang baik dan benar.
"Pelajaran bahasa Indonesia hanya sebagai pelengkap penderita," katanya melanjutkan. Perumpamaan ini ia gunakan untuk mengungkapkan betapa repotnya mengajarkan bahasa Indonesia kepada para siswanya yang sehari-hari hidup di dunia digital.
Bahasa Indonesia bukan hanya terdesak oleh kosakata bahasa asing, tapi juga ditantang habis-habisan oleh budaya komunikasi dunia digital yang sering kali tak peduli kaidah.
Kebiasaan siswa bicara lewat pesan pendek (sms) dan Facebook tetap terbawa ketika mereka berbicara dalam situasi resmi, misalnya diskusi di kelas.http://intisari.grid.id/read/03113701/repotnya-berbahasa-indonesia-di-era-bahasa-alay?page=all
            Tetapi kaum muda sekarang lebih mementingkan gaya daripada bahasa dengan kaedah yang baik dan benar. Akibatnya bisa melakukan kegiatan formal seperi diskusi di instasi pendidikan maka kebiasaan buruk ini akan berlanjut.


belum selesai draff ini
 

Tidak ada komentar: